Pendahuluan.
Kawruh Sejati tidak hanya dapat dipahami dari apa yang diketahui manusia, tetapi juga dari apa yang menjadi dasar kenyataan yang hendak dipahami. Di sinilah aspek ontologis Kawruh Sejati menjadi penting.
Ontologi pada dasarnya membicarakan tentang keberadaan: apa yang ada, bagaimana sesuatu berada, dan apa yang menjadi dasar dari keberadaan tersebut. Dalam kerangka Kawruh Sejati, pertanyaan ontologis tidak berhenti pada pertanyaan tentang benda atau objek yang dapat diamati, tetapi diarahkan kepada hakikat kehidupan, keberadaan manusia, kesadaran, dan Sang Sumber Panguripan.
Dengan demikian, aspek ontologis Kawruh Sejati merupakan kerangka untuk memahami kenyataan yang menjadi dasar dari Kawruh Sejati itu sendiri.
Kawruh Sejati tidak diletakkan sebagai objek yang berdiri sendiri seperti sebuah benda. Ia berhubungan dengan kenyataan yang hendak dipahami manusia. Karena itu, pembahasan ontologisnya perlu membedakan antara kenyataan, pemahaman manusia terhadap kenyataan, dan konsep yang digunakan untuk menjelaskannya.
1. Kenyataan Telah Ada Sebelum Dipahami.
Salah satu dasar ontologis Kawruh Sejati adalah pengakuan bahwa kenyataan tidak muncul karena manusia memikirkannya.
Manusia dapat memberikan nama, membuat konsep, menyusun definisi, dan membangun berbagai kerangka pemikiran. Namun, tindakan tersebut tidak menciptakan kenyataan yang sedang dipahami.
Kenyataan ada terlebih dahulu, sedangkan pemahaman manusia datang kemudian.
Karena itu, Kawruh Sejati tidak seharusnya dipahami sebagai hasil penciptaan pikiran manusia semata. Pikiran manusia berusaha memahami kenyataan, tetapi kenyataan tidak bergantung pada pikiran manusia agar menjadi ada.
Prinsip ini penting agar manusia tidak menyamakan antara konsep tentang kenyataan dengan kenyataan itu sendiri.
2. Sang Sumber Panguripan sebagai Dasar Keberadaan.
Dalam kerangka ontologis Kawruh Sejati, pembahasan mengenai keberadaan mengarah pada Sang Sumber Panguripan.
Sang Sumber Panguripan dipahami sebagai sumber kehidupan. Ia bukan benda, bukan tempat, bukan bentuk tertentu, dan bukan objek yang dapat dibatasi oleh gambaran manusia.
Karena itu, Sang Sumber Panguripan tidak tepat dipahami seperti sebuah objek yang dapat ditempatkan di suatu lokasi tertentu.
Ungkapan bahwa Sang Sumber Panguripan merupakan sumber kehidupan menunjuk pada dasar keberadaan kehidupan itu sendiri.
Manusia mengalami kehidupan, tetapi kehidupan tersebut tidak berasal dari kehendak manusia semata.
Dalam perspektif ini, memahami Kawruh Sejati berarti juga menyadari bahwa keberadaan manusia memiliki dasar yang melampaui dirinya sendiri.
3. Panguripan sebagai Kenyataan yang Dialami
Manusia tidak hanya mengetahui bahwa kehidupan ada. Manusia juga mengalami panguripan.
Panguripan mencakup keberlangsungan hidup, keberadaan manusia, kemampuan menyadari, berpikir, merasakan, dan bertindak.
Namun, panguripan tidak sama dengan sekadar keberadaan raga.
Raga merupakan wahana bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, pengalaman manusia terhadap kehidupan mencakup sesuatu yang lebih luas daripada keberadaan jasmani.
Di sinilah ontologi Kawruh Sejati berusaha melihat kehidupan secara menyeluruh; bukan hanya apa yang tampak, tetapi juga dasar yang memungkinkan kehidupan itu berlangsung.
4. Manusia sebagai Bagian dari Kenyataan.
Manusia sering menempatkan dirinya sebagai pengamat yang berdiri di luar sesuatu yang diamatinya. Padahal, dalam pembahasan ontologis, manusia sendiri merupakan bagian dari kenyataan.
Manusia tidak berada di luar panguripan.
Ia lahir, tumbuh, mengalami perubahan, berpikir, merasakan, berkehendak, dan pada akhirnya mengalami batas kehidupan jasmani.
Karena manusia merupakan bagian dari kenyataan, maka pemahaman mengenai Kawruh Sejati tidak dapat hanya diarahkan kepada dunia luar. Manusia juga perlu memahami keberadaannya sendiri.
Pertanyaan seperti “Siapa aku?”, “Apa yang membuat aku hidup?”, dan “Apa hubungan diriku dengan sumber kehidupan?” menjadi bagian dari perjalanan ontologis.
5. Kesadaran dalam Kerangka Ontologis.
Kesadaran merupakan salah satu unsur penting dalam pembahasan Kawruh Sejati.
Manusia bukan hanya memiliki raga, tetapi juga mampu menyadari keberadaan dirinya dan lingkungannya.
Manusia dapat mengetahui bahwa dirinya sedang berpikir, merasakan sesuatu, menghendaki sesuatu, atau melakukan suatu tindakan.
Dalam kerangka ini, kesadaran perlu dibedakan dari raga.
Raga merupakan wahana kehidupan manusia, sedangkan kesadaran berkaitan dengan kemampuan untuk menyadari. Karena itu, kesadaran tidak cukup dijelaskan hanya dengan menunjuk kepada bentuk jasmani.
Namun, hal ini juga tidak berarti bahwa segala sesuatu yang dialami dalam kesadaran otomatis merupakan Kawruh Sejati.
Kesadaran adalah bagian penting dari manusia yang memungkinkan proses pengenalan dan pemahaman berlangsung, sedangkan Kawruh Sejati berkaitan dengan pemahaman mengenai kenyataan.
6. Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Dimensi Kehidupan Manusia.
Aspek ontologis Kawruh Sejati juga berkaitan dengan keberadaan cipta, rasa, dan karsa dalam kehidupan manusia.
Cipta merupakan kemampuan manusia untuk memahami dan membentuk pemikiran. Rasa berkaitan dengan kemampuan mengalami dan menghayati. Karsa berkaitan dengan kehendak yang mengarahkan tindakan.
Ketiganya bukan sekadar istilah yang berdiri sendiri. Cipta, rasa, dan karsa menunjukkan dimensi kehidupan manusia dalam mengalami, memahami, dan menjalani kenyataan.
Namun, ketiganya juga tidak boleh dipertukarkan dengan Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati merupakan pepadhang pengetahuan, sedangkan cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian dari manusia yang menerima, mengolah, dan mewujudkan pemahaman tersebut dalam kehidupan.
Karena itu, hubungan keduanya bersifat penting tetapi tidak identik.
7. Jatining Panguripan sebagai Guru Sejati.
Dalam kerangka ontologis Kawruh Sejati, terdapat pemahaman mengenai Jatining Panguripan, yang disebut sebagai Guru Sejati.
Guru Sejati dalam pengertian ini bukan tokoh, figur, atau sosok manusia tertentu. Ia juga bukan sekadar identitas pribadi.
Jatining Panguripan menunjuk pada hakikat kehidupan yang menjadi dasar penuntunan menuju pemahaman yang lebih sejati.
Karena itu, istilah Guru Sejati tidak seharusnya dipahami sebagai seseorang yang berada di luar diri manusia dan memberikan pengetahuan sebagaimana seorang guru memberikan pelajaran.
Ia lebih tepat dipahami dalam hubungan dengan hakikat panguripan dan pepadhang yang memungkinkan manusia mengenali kenyataan.
Pemahaman ini kemudian berhubungan dengan Kawruhanta Acarya, yaitu istilah yang digunakan untuk menunjuk Penuntun Kawruh Sejati dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.
8. Kawruh Sejati Bukan Entitas Fisik
Salah satu kesalahan pemahaman yang perlu dihindari adalah memperlakukan Kawruh Sejati sebagai sesuatu yang memiliki bentuk fisik.
Kawruh Sejati bukan benda, bukan tempat, dan bukan objek material. Ia merupakan istilah yang menunjuk pada pengetahuan atau pemahaman sejati mengenai kenyataan.
Karena itu, ketika membahas aspek ontologis Kawruh Sejati, yang sebenarnya dibahas bukanlah “benda bernama Kawruh Sejati”, melainkan kenyataan yang menjadi dasar dan isi dari kawruh tersebut.
Pembedaan ini sangat penting.
Jika Kawruh Sejati diperlakukan sebagai objek, maka pembahasannya mudah bergeser menjadi pencarian bentuk, lokasi, atau pengalaman tertentu. Padahal, persoalan ontologisnya berada pada pertanyaan mengenai apa yang sungguh-sungguh ada dan bagaimana manusia memahami keberadaan tersebut.
9. Kawruh Sejati dan Kasunyatan.
Ontologi Kawruh Sejati pada akhirnya berhubungan erat dengan kasunyatan.
Kasunyatan dapat dipahami sebagai kenyataan yang sesungguhnya, sedangkan Kawruh Sejati merupakan pemahaman yang berusaha mengenali kenyataan tersebut.
Keduanya berhubungan, tetapi tidak identik. Kenyataan tidak bergantung pada pengetahuan manusia. Manusia dapat salah memahami kenyataan, tetapi kesalahan pemahaman tersebut tidak mengubah kenyataan menjadi sesuatu yang lain.
Dari sini dapat dibedakan:
Kasunyatan adalah kenyataan yang ada.
Kawruh Sejati adalah pengetahuan atau pepadhang untuk memahami kenyataan tersebut.
Sementara itu, pemahaman manusia terhadap kenyataan dapat disebut Kawruh Kasunyatan, yaitu pemahaman manusia mengenai kasunyatan berdasarkan kemampuan cipta, rasa, dan karsa.
Pembedaan ini membantu menjaga agar istilah-istilah tersebut tidak bercampur.
Ontologi sebagai Dasar bagi Pemahaman Kawruh.
Aspek ontologis merupakan dasar penting sebelum manusia membicarakan bagaimana Kawruh Sejati diketahui.
Jika tidak jelas apa yang menjadi kenyataan, maka pembahasan tentang cara mengetahui juga dapat kehilangan arah.
Karena itu, setelah memahami aspek ontologis, pembahasan dapat dilanjutkan pada aspek epistemologis: bagaimana manusia mengenali, memahami, dan membedakan Kawruh Sejati dari sekadar pendapat, konsep, dugaan, atau pengalaman subjektif.
Dengan demikian, ontologi menjawab pertanyaan mengenai apa yang ada dan apa yang menjadi dasar kenyataan, sedangkan epistemologi membahas bagaimana manusia mengetahui dan memahami kenyataan tersebut. Keduanya saling berhubungan, tetapi tidak sama.
Penutup.
Aspek ontologis Kawruh Sejati pada dasarnya mengarahkan manusia untuk melihat kenyataan sebelum membicarakan pengetahuan tentang kenyataan.
Kenyataan tidak diciptakan oleh pikiran manusia. Panguripan memiliki dasar, manusia merupakan bagian dari panguripan, dan Sang Sumber Panguripan dipahami sebagai sumber kehidupan.
Manusia menjalani kehidupan melalui raga serta mengalami kesadaran, cipta, rasa, dan karsa. Dalam perjalanan memahami kehidupan, manusia berusaha mengenali
Jatining Panguripan sebagai Guru Sejati dan memperoleh pepadhang yang disebut Kawruh Sejati.
Namun, Kawruh Sejati sendiri bukan benda, bukan tempat, bukan tokoh, dan bukan sekadar pengalaman pribadi. Ia menunjuk pada pengetahuan sejati mengenai kenyataan.
Dengan demikian, inti aspek ontologis Kawruh Sejati dapat diringkas dalam satu prinsip:
Kawruh Sejati berakar pada kenyataan yang ada, bukan pada konsep yang dibuat manusia tentang kenyataan.
Dari pemahaman inilah pencarian kawruh dapat bergerak dari sekadar mengetahui menuju memahami, dari memahami menuju mawas dhiri, dan dari mawas dhiri menuju laku kehidupan yang lebih selaras dengan kenyataan.
FAQ – Aspek Ontologis Kawruh Sejati
1. Apa yang dimaksud dengan aspek ontologis Kawruh Sejati?
Aspek ontologis Kawruh Sejati membahas dasar keberadaan dan kenyataan yang menjadi landasan bagi pemahaman tentang Kawruh Sejati.
2. Apa hubungan Sang Sumber Panguripan dengan Kawruh Sejati?
Sang Sumber Panguripan dipahami sebagai sumber kehidupan. Pemahaman tentang Kawruh Sejati berkaitan dengan kesadaran manusia terhadap dasar keberadaan dan kehidupan tersebut.
3. Apakah Kawruh Sejati merupakan suatu benda atau entitas?
Tidak. Kawruh Sejati bukan benda, tempat, tokoh, atau objek fisik. Istilah ini menunjuk pada pengetahuan atau pepadhang untuk memahami kenyataan yang sesungguhnya.
4. Apa hubungan Kawruh Sejati dengan kesadaran?
Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari dan memahami, sedangkan Kawruh Sejati menunjuk pada pengetahuan mengenai kenyataan. Keduanya berhubungan, tetapi tidak sama.
5. Apa hubungan Kawruh Sejati dengan Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Sejati menunjuk pada pengetahuan sejati mengenai kenyataan, sedangkan Kawruh Kasunyatan menunjuk pada pemahaman manusia mengenai kenyataan tersebut.
6. Mengapa aspek ontologis penting dalam memahami Kawruh Sejati?
Karena aspek ontologis membantu manusia memahami apa yang menjadi dasar kenyataan sebelum membahas bagaimana kenyataan tersebut diketahui dan dipahami.

Komentar
Posting Komentar