KESADARAN DAN KAWRUH SEJATI

kesadaran dan kawruh sejati
Kesadaran sering menjadi titik awal ketika manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri. Manusia menyadari bahwa dirinya hidup, berpikir, merasakan, menghendaki, dan melakukan berbagai tindakan. Dari kesadaran tersebut muncul keinginan untuk memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Namun, dalam proses tersebut terdapat satu hal yang sangat penting: kesadaran tidak boleh disamakan dengan Kawruh Sejati. Keduanya mempunyai kedudukan dan pengertian yang berbeda.

Kesadaran merupakan bagian dari kehidupan janma manusa. Sementara Kawruh Sejati dalam kerangka Uttamopadesa dipahami sebagai pepadhang. Karena itu, hubungan antara kesadaran dan Kawruh Sejati lebih tepat dipahami sebagai hubungan dalam proses pengenalan dan pemahaman, bukan sebagai dua istilah yang mempunyai arti sama.

Mengenali Kesadaran.
Kesadaran bukan sekadar sesuatu yang dapat didefinisikan, melainkan sesuatu yang hanya dapat dikenali melalui pemahaman terhadap kesadaran itu sendiri.

Manusia dapat mengetahui berbagai pengertian tentang kesadaran. Tetapi mengetahui definisi belum tentu berarti memahami kesadaran.

Ketika seseorang menyadari pikirannya sendiri, ia mulai mengenali bahwa pikiran adalah sesuatu yang dapat diamati dalam pengalaman batin.

Ketika seseorang menyadari rasa yang muncul, ia dapat melihat bahwa rasa juga mengalami perubahan.

Ketika seseorang menyadari kehendaknya, ia dapat mengenali dorongan yang mengarahkannya kepada suatu tindakan.

Di sinilah kesadaran menjadi penting: bukan karena kesadaran harus dijadikan sesuatu yang paling tinggi, melainkan karena melalui kesadaran manusia dapat mulai mengenali apa yang berlangsung dalam dirinya.

Kesadaran Bukan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran tidak disamakan dengan cipta, rasa, dan karsa.

Cipta, rasa, dan karsa merupakan daya kehidupan dalam diri janma manusa.

Cipta berkaitan dengan daya pemikiran.

Rasa berkaitan dengan daya penghayatan.

Karsa berkaitan dengan daya kehendak.

Kesadaran atau cetana memungkinkan manusia mengenali apa yang berlangsung dalam kehidupan tersebut. Pembedaan ini penting.

Jika kesadaran langsung disamakan dengan cipta, rasa, atau karsa, maka pembahasan menjadi kabur. Padahal, manusia perlu mampu mengenali perbedaan antara apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang dikehendaki, dan kesadaran terhadap semua itu.

Kesadaran Bukan Jiwa.
Kesadaran juga tidak perlu disamakan dengan Jiwa.

Dalam kerangka Uttamopadesa, Jiwa mempunyai pengertian dan kedudukan tersendiri. Karena itu, istilah kesadaran tidak boleh digunakan sebagai pengganti Jiwa.

Demikian pula Sukma bukan sekadar nama lain dari kesadaran.

Pembedaan istilah semacam ini diperlukan agar pembahasan mengenai manusia tidak kehilangan kerangka yang telah ditetapkan.

Kesadaran merupakan bagian yang perlu dipahami dalam kehidupan janma manusa, tetapi tidak perlu dinaikkan menjadi istilah untuk segala sesuatu.

Kawruh Sejati sebagai Pepadhang.
Kawruh Sejati memiliki kedudukan yang berbeda.

Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang. Ia bukan sekadar hasil pemikiran manusia dan bukan sekadar kumpulan pengalaman pribadi.

Karena itu, manusia tidak menciptakan Kawruh Sejati hanya dengan memikirkan sesuatu.

Yang dilakukan manusia adalah mengenali dan memahami kasunyatan melalui proses penghayatan dan kawruh.

Dalam hubungan ini, kesadaran mempunyai fungsi penting karena manusia tidak mungkin mengenali pengalaman dan proses batinnya tanpa kesadaran.

Namun, penting untuk tetap mengatakan: kesadaran bukan Kawruh Sejati.

Kesadaran menjadi bagian dari proses manusia dalam mengenali dan memahami, sedangkan Kawruh Sejati mempunyai kedudukan sebagai pepadhang.

Kawruh Kasunyatan.
Di antara pengalaman manusia dan pemahaman mengenai kehidupan terdapat Kawruh Kasunyatan.

Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan.

Karena manusia mengamati, mengalami, mengenali, dan memahami kehidupan melalui keterbatasan dirinya, maka Kawruh Kasunyatan berada dalam wilayah pemahaman manusia.

Hal ini berbeda dari Kawruh Sejati.

Perbedaan tersebut perlu dijaga.

Jika semua pemahaman manusia disebut Kawruh Sejati, maka batas antara pepadhang dan pemahaman manusia menjadi hilang.

Sebaliknya, jika Kawruh Sejati hanya dianggap sebagai hasil pikiran manusia, maka kedudukan Kawruh Sejati juga berubah dari kerangka yang telah ditetapkan.

Kesadaran sebagai Jalan Pengenalan.
Kesadaran menjadi penting karena melalui kesadaran manusia dapat melihat apa yang berlangsung dalam dirinya.

Manusia dapat menyadari bahwa pikirannya berubah.

Ia dapat menyadari bahwa rasa dapat naik dan turun.

Ia dapat menyadari bahwa kehendak dapat muncul dan hilang.

Dari pengenalan tersebut, manusia mempunyai kesempatan untuk memahami dirinya dengan lebih jernih.

Proses ini bukan pencarian hal gaib.

Tidak diperlukan pengalaman aneh untuk mulai mengenali kesadaran.

Kesadaran justru dapat dikenali dalam kehidupan yang sangat biasa: ketika berbicara, bekerja, menghadapi persoalan, berhubungan dengan orang lain, mengambil keputusan, dan menjalankan kewajiban.

Spiritualitas sebagai Pengenalan Kesadaran.
Dalam pengertian yang digunakan dalam kerangka ini, spiritualitas sejati adalah proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

Dengan demikian, spiritualitas tidak perlu diukur dari banyaknya pengalaman luar biasa.
Yang lebih penting adalah kedalaman pengenalan terhadap apa yang berlangsung dalam diri.

Ketika manusia mulai mengenali pikirannya, ia dapat belajar menata cipta.

Ketika ia mulai mengenali rasanya, ia dapat belajar membersihkan kotoran batin.

Ketika ia mulai mengenali kehendaknya, ia dapat belajar mengarahkan karsa.

Spiritualitas kemudian mempunyai hubungan langsung dengan laku kehidupan.

Dari Kesadaran Menuju Weninging Cipta.
Kesadaran terhadap cipta membuka kemungkinan bagi manusia untuk menata pikirannya.

Weninging Cipta bukan berarti tidak berpikir.
Manusia tetap membutuhkan pikiran untuk menjalani kehidupan. Yang perlu diupayakan adalah agar cipta tidak dikuasai oleh keruwetan, prasangka, dan dorongan yang tidak disadari.

Kesadaran membuat manusia mampu melihat proses tersebut.

Ia mulai menyadari: "pikiran ini sedang muncul."

Dengan demikian, ia tidak selalu langsung mengikuti setiap pikiran yang muncul.

Dari Kesadaran Menuju Tulusing Rasa.
Hal yang sama berlaku terhadap rasa.

Rasa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, tetapi rasa dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan.

Kesadaran membantu manusia mengenali rasa tanpa harus langsung dikuasai olehnya.
Dari sinilah Tulusing Rasa menjadi penting.

Tulusing Rasa bukan berarti manusia tidak memiliki perasaan. Justru manusia perlu mengenali perasaannya dengan jernih agar rasa tidak menjadi sumber kotoran batin yang mengganggu laku.

Dari Kesadaran Menuju Utamaning Karsa.
Karsa juga membutuhkan kesadaran. Manusia perlu mengetahui apa yang mendorong dirinya melakukan sesuatu.

Tidak semua kehendak harus diwujudkan.

Kesadaran memungkinkan manusia melihat dorongan kehendak sebelum menjadikannya tindakan.

Dengan demikian, karsa dapat diarahkan menuju Utamaning Karsa.

Karsa utama bukan sekadar kehendak yang kuat, melainkan kehendak yang diarahkan kepada laku yang tepat.

Kesadaran dan Laku.
Di sinilah hubungan kesadaran dengan Kawruh Uttamopadesa menjadi semakin jelas.

Kawruh tidak berhenti pada pengetahuan.

Kesadaran tidak berhenti pada pengenalan.

Pemahaman tidak berhenti pada perenungan.

Semuanya perlu menemukan bentuk dalam laku.

Apabila kesadaran hanya dibicarakan, ia menjadi konsep.

Apabila kawruh hanya dihafalkan, ia menjadi pengetahuan.

Apabila pemahaman hanya disimpan dalam pikiran, ia belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan.

Karena itu, laku menjadi tempat pemahaman diwujudkan.

Penutup.
Kesadaran merupakan bagian penting dalam proses manusia mengenali dan memahami kehidupan. Namun, kesadaran bukan Kawruh Sejati, bukan Jiwa, bukan Sukma, dan bukan pula cipta, rasa, atau karsa.

Kawruh Sejati mempunyai kedudukan tersendiri sebagai pepadhang. Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan.

Kawruh Uttamopadesa menjadi kerangka untuk memahami hubungan tersebut dan membawanya ke dalam laku kehidupan.

Spiritualitas kemudian tidak perlu diarahkan kepada pencarian hal-hal gaib. Spiritualitas dapat menjadi proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.

Dari sana manusia belajar menata Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa.
Kesadaran bukan tujuan untuk melarikan diri dari kehidupan.

Kesadaran adalah bagian dari perangkat mutlak untuk memahami kehidupan dan menjalankannya dengan lebih jernih.

FAQ tentang Kesadaran dan Kawruh Sejati.

1. Apakah kesadaran sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kesadaran dan Kawruh Sejati memiliki kedudukan berbeda. Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang.

2. Apa itu Kawruh Kasunyatan?
Kawruh Kasunyatan adalah pemahaman manusia terhadap kasunyatan dan berbeda dari Kawruh Sejati.

3. Apakah kesadaran sama dengan cipta, rasa, dan karsa?
Tidak. Cipta, rasa, dan karsa merupakan daya kehidupan dalam diri janma manusa, sedangkan kesadaran atau cetana merupakan bagian yang memungkinkan manusia mengenali apa yang berlangsung dalam kehidupan tersebut.

4. Mengapa kesadaran penting dalam spiritualitas?
Karena spiritualitas dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

5. Apa hubungan kesadaran dengan Kawruh Uttamopadesa?
Kesadaran menjadi bagian penting dalam proses pengenalan dan pemahaman yang kemudian diarahkan menjadi laku kehidupan.

Komentar