KESADARAN, DASAR SPIRITUALITAS

kesadaran adalah dasar spiritualitas
Kesadaran bukan sekadar sesuatu yang dapat didefinisikan, melainkan sesuatu yang hanya dapat dikenali melalui pemahaman terhadap kesadaran itu sendiri.

Kesadaran merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, tetapi sekaligus sulit dijelaskan secara tuntas.

Setiap janma manusa mengalami kesadaran dalam kehidupannya. Manusia mengetahui, merasakan, menghendaki, memperhatikan, mengingat, mempertimbangkan, dan menyadari keberadaan dirinya. Namun ketika kesadaran itu sendiri ditanyakan secara mendasar—apa hakikatnya, dari mana keberadaannya, dan bagaimana ia dapat ada—jawabannya tidak sesederhana uraian mengenai fungsi otak atau proses mental.

Di sinilah pembahasan mengenai kesadaran memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan spiritualitas.

Spiritualitas, dalam pengertian yang lebih mendasar, tidak harus dipahami sebagai pencarian terhadap hal-hal gaib, pengalaman supranatural, atau sesuatu yang berada di luar kenyataan kehidupan. Spiritualitas dapat dipahami sebagai proses mengenali, memahami, dan menghayati keberadaan batin serta makna kehidupan secara lebih mendalam.

Dengan demikian, spiritualitas sejati adalah proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

Kesadaran sebagai Dasar Spiritualitas.
Apabila spiritualitas berbicara mengenai pengalaman batin, penghayatan kehidupan, dan pencarian makna yang mendalam, maka kesadaran menjadi dasar yang tidak dapat dipisahkan darinya.

Tanpa kesadaran, manusia tidak dapat mengetahui bahwa dirinya sedang mengalami sesuatu. Tanpa kesadaran pula, tidak ada penghayatan terhadap rasa, tidak ada pengamatan terhadap pikiran, dan tidak ada kemampuan untuk menyadari tindakan yang sedang dilakukan.

Karena itu, pembicaraan mengenai spiritualitas pada akhirnya selalu berhubungan dengan kesadaran.

Namun, kesadaran tidak cukup hanya dibicarakan sebagai konsep. Kesadaran perlu dikenali melalui pengalaman langsung terhadap keberadaan diri, cara cipta bekerja, bagaimana rasa muncul dan berubah, serta bagaimana karsa mengarahkan tindakan.

Dalam kerangka ini, spiritualitas bukan terutama persoalan mempercayai sesuatu yang tidak terlihat. Spiritualitas lebih dekat dengan proses memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam diri manusia ketika ia berpikir, merasa, menyadari, dan bertindak.

Kesadaran, Spiritualitas, dan Batas Sains.
Dalam konteks spiritualitas sebagai pengalaman, penghayatan, dan pencarian makna batin, terdapat wilayah yang memang tidak seluruhnya dapat dibuktikan melalui metode ilmiah.

Sains bekerja melalui metode yang memungkinkan suatu gejala diamati, diukur, diuji, dibandingkan, dan—dalam kondisi tertentu—direplikasi.

Metode tersebut sangat penting untuk memperoleh pengetahuan yang dapat diuji secara objektif.

Sementara itu, pengalaman spiritual memiliki unsur subjektif dan batiniah. Seseorang dapat mengalami ketenangan, kedalaman penghayatan, perubahan cara memandang kehidupan, atau pengalaman kesadaran tertentu yang tidak seluruh maknanya dapat dipindahkan menjadi ukuran objektif.

Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan spiritualitas sama sekali tidak dapat diteliti secara ilmiah.

Justru di sinilah batas antara gejala yang dapat diamati dan hakikat yang sedang dicari perlu dibedakan dengan tegas.

Sains dapat meneliti berbagai gejala yang berkaitan dengan pengalaman spiritual. Akan tetapi, hasil penelitian terhadap gejala tersebut tidak otomatis menjadi pembuktian terhadap hakikat spiritualitas itu sendiri.

1. Perubahan Perilaku.
Perubahan perilaku merupakan salah satu aspek yang dapat diamati dan diteliti.
Misalnya, seseorang setelah menjalani proses penghayatan tertentu menjadi lebih tenang, lebih mampu mengendalikan diri, lebih berhati-hati dalam bertindak, atau menunjukkan perubahan dalam hubungan sosialnya.

Perubahan tersebut merupakan kasunyatan yang dapat diamati. Penelitian dapat membandingkan perilaku seseorang sebelum dan sesudah menjalani suatu proses tertentu.

Perubahan itu dapat dicatat, dianalisis, bahkan dalam kondisi tertentu diukur secara sistematis.

Akan tetapi, penelitian terhadap perubahan perilaku tidak dengan sendirinya berarti bahwa penelitian tersebut telah membuktikan spiritualitas.

Yang diteliti adalah perubahan perilakunya.
Apa yang menyebabkan perubahan tersebut, bagaimana seseorang memaknainya, dan apakah perubahan itu merupakan bagian dari pengalaman spiritual tertentu merupakan persoalan yang membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

Dengan kata lain, kasunyatan perilaku tidak boleh langsung disamakan dengan hakikat spiritualitas.

2. Pengalaman Subjektif.
Pengalaman subjektif merupakan bagian penting dalam pembahasan spiritualitas.
Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya mengalami ketenangan, kedalaman batin, rasa menyatu dengan kehidupan, perubahan pandangan terhadap diri sendiri, atau pengalaman tertentu yang dianggap sangat bermakna.

Laporan semacam itu merupakan kesaksian mengenai pengalaman pribadi. Pengalaman tersebut tidak harus ditolak hanya karena bersifat subjektif. Sebaliknya, pengalaman itu dapat menjadi bahan penelitian. Peneliti dapat mempelajari pola pengalaman yang dilaporkan oleh banyak orang, kondisi yang menyertainya, maupun dampaknya terhadap kehidupan seseorang.

Namun, terdapat perbedaan penting antara meneliti laporan pengalaman dan membuktikan hakikat pengalaman tersebut.

Laporan subjektif merupakan data mengenai apa yang dialami seseorang. Ia tidak otomatis menjadi pengetahuan yang berlaku umum mengenai hakikat spiritualitas.

Karena itu, pengalaman pribadi perlu dihargai sebagai pengalaman, tetapi tidak perlu dinaikkan secara otomatis menjadi kebenaran universal.

3. Aktivitas Otak.
Aktivitas otak memberikan contoh yang lebih jelas mengenai pentingnya membedakan gejala dengan hakikat.

Ketika seseorang mengalami pengalaman spiritual tertentu, aktivitas saraf dan berbagai proses fisiologis dapat diteliti. Penelitian neurosains dapat mengamati hubungan antara keadaan mental tertentu dengan aktivitas pada bagian atau jaringan otak tertentu.

Pengetahuan semacam itu sangat berguna untuk memahami bagaimana keadaan tubuh dan otak berkaitan dengan pengalaman manusia.

Namun, terdapat lompatan kesimpulan yang perlu dihindari.

Menemukan aktivitas tertentu pada otak ketika seseorang mengalami pengalaman spiritual tidak dengan sendirinya menjelaskan hakikat pengalaman tersebut.

Aktivitas otak menunjukkan apa yang terjadi pada organ tubuh ketika pengalaman berlangsung.

Hal tersebut berbeda dari pertanyaan mengenai apa sebenarnya kesadaran, mengapa pengalaman subjektif itu dapat muncul, dan bagaimana hakikat pengalaman itu harus dipahami.

Dengan demikian, aktivitas otak adalah kasunyatan yang dapat diamati mengenai proses biologis, bukan otomatis penjelasan mengenai hakikat spiritualitas.

Apakah Neurosains Sudah mampu Menjelaskan Kesadaran?
Neurosains telah memberikan banyak pengetahuan mengenai berbagai proses dan kondisi saraf yang berkaitan dengan kesadaran.

Penelitian dapat mengkaji hubungan antara keadaan sadar, perhatian, persepsi, ingatan, aktivitas otak, serta berbagai kondisi neurologis.

Akan tetapi, sampai artikel ini ditulis, neurosains belum mampu memberikan penjelasan yang tuntas, jelas, dan presisi mengenai hakikat kesadaran itu sendiri.

Di sinilah perlu dibedakan antara dua pertanyaan.

Pertanyaan pertama adalah:
Proses apa yang berkaitan dengan kesadaran?

Pertanyaan kedua adalah:
Apa hakikat kesadaran itu sendiri?

Pertanyaan pertama dapat diteliti melalui berbagai metode ilmiah. Pertanyaan kedua menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar.

Mengetahui hubungan antara aktivitas otak dan keadaan sadar tidak sama dengan mengetahui hakikat kesadaran.

Dengan demikian, penelitian mengenai proses kesadaran tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai jawaban final mengenai keberadaan dan hakikat kesadaran.

Jangan Menyamakan Kasunyatan dengan Hakikat.
Perbedaan antara kasunyatan dan hakikat menjadi penting dalam pembahasan spiritualitas.

Kasunyatan yang dapat diamati adalah sesuatu yang dapat dikenali melalui gejala, perubahan, atau peristiwa yang terjadi.

Misalnya perubahan perilaku, laporan pengalaman, dan aktivitas otak.

Sementara itu, hakikat menunjuk pada pertanyaan yang lebih mendasar mengenai apa sebenarnya sesuatu itu.

Contohnya sederhana.

Seseorang dapat mengamati bahwa manusia sedang berpikir. Aktivitas tertentu pada otak juga dapat diamati ketika proses berpikir berlangsung. Namun, pengamatan tersebut belum otomatis menjawab apa hakikat kesadaran yang memungkinkan manusia mengetahui bahwa ia sedang berpikir.

Demikian pula, seseorang dapat mengamati perubahan perilaku setelah suatu pengalaman spiritual. Tetapi perubahan tersebut tidak otomatis menjawab apa hakikat spiritualitas.

Karena itu, dalam pencarian kawruh, penting untuk tidak mencampuradukkan tingkat pembahasan.

Gejala bukan selalu hakikat.

Pengalaman bukan otomatis kebenaran universal.

Aktivitas otak bukan otomatis penjelasan tentang kesadaran.

Perubahan perilaku bukan otomatis pembuktian tentang spiritualitas.

Spiritualitas sebagai Proses Mengenali Kesadaran.
Jika spiritualitas tidak diarahkan terutama kepada pencarian hal-hal gaib, maka pusat perhatiannya dapat dikembalikan kepada sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan manusia, yaitu kesadaran itu sendiri.

Manusia dapat mulai dengan mengenali bagaimana cipta bekerja, bagaimana rasa muncul, dan bagaimana karsa menentukan tindakan.

Dari sana, manusia dapat belajar mengamati dirinya sendiri.

Apa yang sedang dipikirkan?
Apa yang sedang dirasakan?
Mengapa suatu keinginan muncul?
Bagaimana suatu keputusan terbentuk?
Apakah tindakan yang dilakukan selaras dengan pemahaman yang dimiliki?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa spiritualitas keluar dari wilayah spekulasi dan memasukkannya ke dalam kehidupan nyata.

Spiritualitas kemudian tidak berhenti pada pengalaman batin, tetapi diwujudkan dalam laku.

Di sinilah pemahaman kesadaran memiliki nilai penting. Kesadaran bukan sekadar bahan pembicaraan, melainkan sesuatu yang perlu dikenali melalui kehidupan itu sendiri.

Kesadaran dan Laku Kehidupan.
Pemahaman mengenai kesadaran pada akhirnya perlu terlihat dalam cara manusia menjalani kehidupan.

Jika seseorang memahami kesadaran tetapi cipta tetap dikuasai prasangka, rasa tetap dipenuhi gejolak, dan karsa tetap diarahkan oleh kepentingan diri semata, maka pemahaman tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.

Karena itu, spiritualitas dapat dipahami sebagai proses yang bergerak dari mengenali, memahami, menghayati, kemudian menjalani.

Kesadaran menjadi dasar.

Pemahaman menjadi penerang.

Cipta, rasa, dan karsa menjadi ruang penghayatan.

Laku menjadi perwujudannya dalam kehidupan.

Dalam kerangka tersebut, pencarian spiritualitas tidak perlu diarahkan kepada sesuatu yang semakin jauh dari kehidupan.

Justru semakin mendalam seseorang memahami kesadaran, semakin besar tuntutannya untuk mampu menjalani kehidupan secara sadar.

Penutup.
Spiritualitas berada pada ranah pengalaman dan penghayatan kesadaran yang tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh pembuktian ilmiah.

Sains dapat meneliti berbagai gejala yang menyertai pengalaman-pengalaman spiritual, tetapi tidak dengan sendirinya dapat membuktikan hakikat spiritualitas itu sendiri.

Sains memiliki wilayah dan kekuatan metodologisnya. Pengalaman batin memiliki wilayah penghayatannya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan selama batas masing-masing dipahami dengan jernih.

Yang perlu dihindari adalah kesalahan dalam menarik kesimpulan.

Ketika perubahan perilaku diamati, jangan langsung menyebutnya sebagai pembuktian spiritualitas.

Ketika pengalaman subjektif dilaporkan, jangan langsung menjadikannya pengetahuan universal.

Ketika aktivitas otak ditemukan, jangan langsung menganggap bahwa hakikat kesadaran telah dijelaskan.

Sebab pada akhirnya terdapat pertanyaan yang lebih mendasar:

Apa hakikat kesadaran itu sendiri?

Pertanyaan tersebut membawa manusia kembali kepada dirinya sendiri. Bukan untuk mencari sesuatu yang gaib, melainkan untuk mengenali apa yang sedang mengalami, menyadari, memahami, dan menjalani kehidupan.

Dengan demikian, spiritualitas sejati dapat dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri, kemudian mewujudkan pemahaman tersebut dalam laku kehidupan.

FAQ Kesadaran sebagai Dasar Spiritualitas.

1. Apakah kesadaran dapat dijelaskan secara ilmiah?
Berbagai proses dan kondisi saraf yang berkaitan dengan kesadaran dapat diteliti secara ilmiah. Namun, hal tersebut berbeda dengan menjelaskan secara tuntas hakikat kesadaran itu sendiri.

2. Apakah spiritualitas tidak dapat diteliti oleh sains?
Tidak demikian. Berbagai gejala yang berkaitan dengan pengalaman spiritual dapat diteliti, termasuk laporan pengalaman, perubahan perilaku, dan aktivitas otak. Yang perlu dibedakan adalah penelitian terhadap gejala tersebut dengan pembuktian mengenai hakikat spiritualitas.

3. Apakah pengalaman spiritual merupakan fakta?
Pengalaman seseorang merupakan fakta bahwa seseorang tersebut mengalami sesuatu. Namun, makna dan penafsiran atas pengalaman tersebut belum otomatis menjadi fakta universal yang berlaku bagi semua orang.

4. Apakah aktivitas otak membuktikan bahwa spiritualitas hanya berasal dari otak?
Tidak. Pengamatan terhadap aktivitas otak menunjukkan adanya proses biologis yang berkaitan dengan pengalaman tertentu. Dari data tersebut tidak otomatis dapat disimpulkan keseluruhan hakikat spiritualitas.

5. Mengapa perubahan perilaku tidak dianggap sebagai bukti spiritualitas?
Karena perubahan perilaku hanya menunjukkan adanya perubahan pada perilaku. Perubahan tersebut dapat memiliki berbagai sebab. Untuk menyebutnya sebagai bukti hakikat spiritualitas diperlukan kesimpulan yang melampaui apa yang secara langsung ditunjukkan oleh data.

6. Apa hubungan kesadaran dengan spiritualitas?
Kesadaran merupakan dasar karena pengalaman, penghayatan, dan pencarian makna batin hanya dapat dikenali melalui kesadaran. Karena itu, memahami spiritualitas dapat dimulai dari mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.

7. Apakah spiritualitas harus berkaitan dengan hal-hal gaib?
Tidak. Spiritualitas dapat dipahami sebagai proses mengenali kesadaran, memahami kehidupan, menghayati makna batin, dan mewujudkan pemahaman tersebut dalam laku kehidupan.

8. Apa yang dimaksud dengan “jangan menyamakan kasunyatan dengan hakikat”?
Maksudnya adalah membedakan antara sesuatu yang dapat diamati sebagai gejala atau peristiwa dengan pertanyaan mengenai hakikat terdalam dari sesuatu tersebut. Pengamatan terhadap gejala tidak otomatis menjawab hakikatnya.

9. Apakah pengalaman spiritual harus dipercaya begitu saja?
Tidak. Pengalaman dapat dihargai sebagai pengalaman pribadi, tetapi tetap perlu dipahami secara jernih. Pengalaman subjektif tidak otomatis menjadi pengetahuan universal.

10. Apa inti spiritualitas dalam pembahasan kesadaran?
Intinya adalah mengenali dan memahami kesadaran, kemudian membawa pemahaman tersebut ke dalam kehidupan nyata melalui cipta, rasa, karsa, dan laku yang lebih sadar.

Komentar