Dasar pemikiran ... BUKA
Kesadaran merupakan salah satu jalan penting menuju kehidupan yang lebih terang, lebih jernih, dan lebih selaras dengan kenyataan.
- Kawruh Sejati -
Kesadaran merupakan salah satu unsur penting dalam perjalanan manusia untuk memahami kehidupan secara lebih jernih.
Dalam kerangka pemahaman Kawruh Sejati, kesadaran tidak sekadar berarti keadaan ketika seseorang terjaga, berpikir, atau mengetahui sesuatu. Kesadaran berkaitan dengan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan, mengenali apa yang sedang berlangsung dalam dirinya, memahami kenyataan, serta mengarahkan cipta, rasa, dan karsa secara lebih jernih.
Namun, perlu dibedakan antara kesadaran dan Kawruh Sejati. Kesadaran bukanlah Kawruh Sejati, sebagaimana Kawruh Sejati bukan sekadar keadaan sadar. Kesadaran merupakan ruang penting bagi manusia untuk menerima, memahami, dan menghayati pepadhang Kawruh Sejati dalam kehidupan.
Dalam pemahaman ini, kesadaran tidak berhenti pada pengetahuan. Kesadaran harus membawa perubahan dalam cara manusia melihat dirinya, memahami kehidupan, menyikapi kenyataan, dan menjalankan laku.
Berikut sembilan prinsip kesadaran dalam memahami Kawruh Sejati.
1. Kesadaran adalah kemampuan untuk menyadari.
Prinsip pertama adalah memahami bahwa kesadaran berarti menyadari.
Manusia dapat melihat, mendengar, berpikir, merasakan, dan bertindak, tetapi semua itu belum tentu menunjukkan kedalaman kesadaran. Seseorang dapat melakukan sesuatu secara otomatis tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Kesadaran dimulai ketika manusia mampu hadir terhadap apa yang dialaminya. Ia menyadari apa yang sedang dipikirkan. Ia menyadari apa yang sedang dirasakan. Ia menyadari dorongan yang muncul dalam dirinya. Ia juga menyadari tindakan dan akibat dari tindakannya.
Kesadaran dengan demikian bukan hanya aktivitas berpikir, melainkan kemampuan untuk mengetahui bahwa sesuatu sedang berlangsung.
Dari sinilah perjalanan menuju pemahaman yang lebih jernih dapat dimulai.
2. Kesadaran bukan sekadar pikiran.
Prinsip kedua adalah membedakan kesadaran dari pikiran.
Pikiran merupakan aktivitas batin yang menghasilkan gagasan, pertimbangan, ingatan, bayangan, dan berbagai bentuk pemahaman. Namun, kesadaran tidak dapat disederhanakan hanya sebagai kumpulan pikiran.
Manusia dapat menyadari bahwa pikirannya sedang bekerja. Ia dapat memperhatikan munculnya sebuah pikiran, mempertimbangkannya, kemudian memilih apakah pikiran tersebut akan diikuti atau tidak.
Di sinilah terdapat perbedaan penting.
Pikiran merupakan bagian dari aktivitas kesadaran, sedangkan kesadaran tidak identik dengan pikiran.
Pemahaman ini membantu manusia untuk tidak langsung menganggap setiap pikiran sebagai kenyataan. Pikiran dapat berubah, berkembang, bahkan keliru. Kesadaran memberikan ruang untuk melihat proses tersebut secara lebih jernih.
3. Kesadaran mencakup cipta, rasa, dan karsa.
Dalam kehidupan manusia, kesadaran dapat dikenali melalui keterhubungan cipta, rasa, dan karsa.
Cipta berkaitan dengan kemampuan memahami dan membentuk pemikiran. Rasa berkaitan dengan penghayatan dan kepekaan batin. Karsa berkaitan dengan dorongan untuk menentukan dan melakukan sesuatu.
Ketiganya tidak seharusnya berjalan secara terpisah.
Cipta yang tajam tetapi tidak disertai rasa dapat menghasilkan tindakan yang kering.
Rasa yang kuat tanpa kejernihan cipta dapat membuat manusia mudah terbawa dorongan.
Sementara karsa yang tidak dituntun cipta dan rasa dapat menghasilkan tindakan yang tidak terarah.
Karena itu, kesadaran yang berkembang adalah kesadaran yang mampu menata ketiganya.
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa menjadi arah penting dalam pengolahan kesadaran.
4. Kesadaran menuntun manusia mengenali dirinya.
Prinsip keempat adalah kesadaran sebagai jalan untuk mengenali diri.
Mengenali diri bukan sekadar mengetahui nama, pekerjaan, kedudukan, keinginan, atau pengalaman hidup. Mengenali diri berarti melihat bagaimana seluruh proses batin bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia perlu mengenali apa yang mendorong dirinya marah, takut, iri, berlebihan, tergesa-gesa, atau mencari pengakuan. Sebaliknya, manusia juga perlu mengenali munculnya ketulusan, kejernihan, kebijaksanaan, kepedulian, dan dorongan untuk berbuat baik.
Kesadaran memungkinkan manusia menjadi pengamat terhadap dirinya sendiri. Dari pengamatan tersebut muncul mawas diri. Manusia tidak hanya melihat dunia di luar dirinya, tetapi juga berani melihat keadaan batinnya sendiri.
Tanpa kesadaran, manusia mudah menyalahkan keadaan. Dengan kesadaran, manusia mulai memeriksa bagaimana dirinya ikut membentuk respons terhadap keadaan tersebut.
5. Kesadaran membedakan kenyataan dan penafsiran
Prinsip kelima adalah kemampuan membedakan kenyataan dari penafsiran tentang kenyataan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mencampurkan apa yang benar-benar terjadi dengan apa yang dipikirkannya mengenai peristiwa tersebut.
Sebuah peristiwa merupakan kenyataan. Sementara penilaian, dugaan, prasangka, ketakutan, dan kesimpulan terhadap peristiwa tersebut merupakan hasil pengolahan manusia.
Kesadaran membantu manusia memberikan jarak antara keduanya.
Dengan demikian, manusia tidak terburu-buru menganggap persepsinya sebagai kenyataan mutlak.
Prinsip ini penting dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, karena pencarian kebenaran membutuhkan kejernihan dalam melihat. Apa yang diketahui perlu diperiksa. Apa yang dirasakan perlu dikenali. Apa yang dipikirkan perlu dipertimbangkan.
Kesadaran membuat manusia lebih terbuka terhadap kenyataan tanpa kehilangan kemampuan untuk menilai.
6. Kesadaran berkembang melalui pengamatan dan pengalaman hidup.
Kesadaran tidak cukup hanya dibicarakan. Ia perlu dijalani.
Manusia belajar melalui pengalaman. Namun pengalaman saja belum tentu menghasilkan kesadaran. Pengalaman dapat berlalu tanpa memberikan pemahaman apabila manusia tidak melakukan pengamatan terhadap apa yang terjadi.
Karena itu, setiap pengalaman dapat menjadi bahan untuk mengembangkan kesadaran.
Ketika mengalami kegagalan, manusia dapat bertanya: apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan tindakan tersebut? Bagaimana keadaan cipta, rasa, dan karsa ketika mengambil keputusan?
Ketika berhasil, pertanyaan serupa juga perlu diajukan.
Dengan cara tersebut, pengalaman tidak sekadar menjadi kenangan, tetapi menjadi bahan untuk memperdalam pemahaman tentang kehidupan.
Kesadaran tumbuh ketika manusia mampu mengalami, mengamati, memahami, dan memperbaiki laku.
7. Kesadaran harus menghasilkan kejernihan.
Kesadaran bukan sekadar bertambahnya kemampuan untuk mengamati diri.
Kesadaran yang berkembang seharusnya membawa manusia menuju keadaan yang lebih jernih.
Kejernihan berarti manusia tidak mudah dikuasai oleh dorongan sesaat. Ia mampu melihat persoalan dengan lebih tenang, mempertimbangkan akibat, dan menentukan tindakan secara lebih tepat.
Dalam kerangka Kawruh Sejati, kejernihan memiliki hubungan erat dengan proses memahami kehidupan.
Semakin jernih kesadaran seseorang, semakin terbuka kemungkinan untuk melihat perbedaan antara keinginan pribadi, prasangka, emosi, pemikiran, dan kenyataan.
Karena itu, kesadaran bukan tujuan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru semakin berkembang kesadaran,
semakin besar tuntutan untuk berlaku jujur terhadap diri sendiri.
8. Kesadaran diwujudkan melalui laku.
Prinsip kedelapan adalah bahwa kesadaran harus hadir dalam kehidupan nyata.
Kesadaran yang hanya berhenti sebagai gagasan belum menunjukkan kedalaman pemahaman. Apa yang dipahami perlu terlihat dalam cara manusia berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menggunakan kebebasan, dan menghadapi persoalan.
Inilah hubungan penting antara kawruh dan laku.
Manusia dapat memahami banyak hal tentang kebaikan, tetapi pemahaman tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku.
Manusia dapat berbicara tentang kejernihan, tetapi kejernihan perlu terlihat ketika menghadapi persoalan.
Dengan demikian, ukuran perkembangan kesadaran bukan sekadar banyaknya istilah yang dipahami, melainkan bagaimana pemahaman tersebut mengubah kehidupan.
Kesadaran yang hidup akan melahirkan laku yang lebih tertata.
9. Kesadaran membuka jalan menuju pemahaman Kawruh Sejati.
Prinsip terakhir adalah memahami hubungan antara kesadaran dan Kawruh Sejati.
Kesadaran bukan Kawruh Sejati. Akan tetapi, kesadaran memiliki peran penting dalam perjalanan manusia memahami Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati dapat dipahami sebagai pepadhang yang mengarahkan manusia kepada pemahaman yang benar tentang kehidupan. Sementara kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menerima, mengolah, menyadari, dan mewujudkan pemahaman tersebut dalam kehidupan.
Karena itu, keduanya tidak perlu dicampuradukkan.
Kesadaran adalah bagian dari proses manusia memahami dan menghayati kehidupan, sedangkan Kawruh Sejati menunjuk pada kawruh yang menjadi pepadhang bagi kehidupan.
Hubungan tersebut membuat manusia tidak berhenti pada kesadaran terhadap dirinya sendiri. Kesadaran perlu bergerak menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan, kenyataan, dan sumber kehidupan.
Pada akhirnya, kesadaran yang berkembang bukan membawa manusia menjauh dari kehidupan, melainkan membuat manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan jernih.
Kesadaran sebagai Jalan Penghayatan Kawruh Sejati.
Sembilan prinsip tersebut di atas menunjukkan bahwa kesadaran bukan sekadar keadaan terjaga dan bukan pula sekadar aktivitas berpikir.
Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan, mengenali proses dalam dirinya, memahami hubungan cipta, rasa, dan karsa, membedakan kenyataan dari penafsiran, serta mengarahkan pemahaman tersebut ke dalam laku.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, kesadaran menjadi bagian penting karena tanpa kesadaran manusia mudah menerima pemahaman secara dangkal. Sebaliknya, kesadaran yang berkembang memungkinkan manusia menghayati kawruh secara lebih jernih dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, perjalanan memahami Kawruh Sejati bukan hanya perjalanan untuk mengetahui lebih banyak, tetapi juga perjalanan untuk menjadi lebih sadar.
Kesadaran yang jernih akan menata cipta. Cipta yang wening akan membantu tulusing rasa. Rasa yang tulus akan menuntun utamaning karsa.
Dari sinilah kawruh dapat menemukan wujudnya dalam laku kehidupan.
Dengan demikian, kesadaran bukan akhir perjalanan. Kesadaran merupakan salah satu jalan penting menuju kehidupan yang lebih terang, lebih jernih, dan lebih selaras dengan kenyataan.
FAQ: 9 Prinsip Kesadaran dalam Kawruh Sejati.
1. Apa yang dimaksud kesadaran dalam Kawruh Sejati?
Kesadaran adalah kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan, mengenali proses dalam dirinya, memahami kenyataan, dan mengarahkan cipta, rasa, serta karsa secara jernih.
2. Apakah kesadaran sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kesadaran dan Kawruh Sejati merupakan dua hal yang berbeda. Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari dan memahami, sedangkan Kawruh Sejati berkaitan dengan kawruh yang menjadi pepadhang bagi kehidupan.
3. Apakah kesadaran hanya berkaitan dengan pikiran?
Tidak. Kesadaran tidak identik dengan pikiran. Kesadaran juga mencakup kemampuan menyadari rasa, kehendak, tindakan, pengalaman, dan keadaan diri.
4. Apa hubungan kesadaran dengan cipta, rasa, dan karsa?
Cipta, rasa, dan karsa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Kesadaran membantu manusia mengenali, menata, dan menyelaraskan ketiganya agar kehidupan tidak dikuasai oleh salah satu unsur secara tidak seimbang.
5. Bagaimana cara mengembangkan kesadaran?
Kesadaran dapat dikembangkan melalui mawas diri, pengamatan terhadap pengalaman, kejujuran terhadap keadaan batin, kejernihan berpikir, dan penerapan pemahaman dalam kehidupan sehari-hari.g
6. Apa tujuan kesadaran dalam perjalanan memahami Kawruh Sejati?
Tujuannya bukan sekadar membuat manusia mengetahui lebih banyak, tetapi membantu manusia melihat kehidupan secara lebih jernih dan mewujudkan pemahaman tersebut melalui laku yang nyata.

Komentar
Posting Komentar