KAWRUH URIP SEJATI UTTAMOPADESA

kawruh urip sejati uttamopadesa
Kawruh Urip Sejati Uttamopadesa merupakan salah satu kerangka pemikiran dalam Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo. Dalam pengembangannya, Kawruh Urip Sejati disebut Purnata Jiwana Uttamopadesa, yaitu wedharan yang membahas tatanan kehidupan manusia menuju keutuhan melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

Urip sejati tidak sekadar berarti keadaan hidup secara jasmani. Manusia dapat hidup, berpikir, bekerja, memperoleh pengetahuan, mengejar keinginan, serta mengalami berbagai peristiwa, tetapi belum tentu memahami hakikat panguripannya.

Karena itu, Kawruh Urip Sejati tidak terutama membahas panjang atau pendeknya usia, keberhasilan duniawi, banyaknya pengalaman, ataupun kehidupan setelah kematian. Pokok pembahasannya adalah bagaimana manusia memahami panguripan, menyadari keadaan dirinya, kemudian menjalani kehidupan melalui laku yang semakin selaras dengan kasunyatan.

Pengertian Kawruh Urip Sejati.
Kawruh Urip Sejati dapat dipahami sebagai kawruh mengenai panguripan yang dijalani berdasarkan pemahaman terhadap kasunyatan.

Manusia tidak hanya perlu mengetahui keadaan di luar dirinya, tetapi juga perlu memahami tatanan yang berlangsung dalam dirinya. Cipta bekerja dalam memahami dan menimbang. Rasa mengalami dan menghayati kehidupan. Karsa mendorong manusia untuk menentukan kehendak dan melakukan tindakan. Kesadaran memungkinkan manusia menyadari berbagai gerak tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, cipta dapat menjadi keruh oleh prasangka, rasa dapat dipengaruhi pamrih, dan karsa dapat terseret oleh keinginan sesaat. Apabila ketiganya tidak ditata, manusia mudah kehilangan arah dalam menjalani panguripan.

Maka, urip sejati bukan berarti kehidupan tanpa persoalan. Urip sejati adalah kehidupan yang dijalani dengan pemahaman, kesadaran, dan laku yang semakin tertata.

Panguripan dan Sang Sumber Panguripan.
Pemahaman mengenai urip sejati tidak dapat dipisahkan dari Sang Sumber Panguripan.

Panguripan bukan sesuatu yang muncul tanpa asal. Manusia mengalami kehidupan karena berada dalam panguripan. Namun Sang Sumber Panguripan tidak dipahami sebagai benda, tempat, bentuk, ataupun objek yang dapat ditunjuk secara lahiriah.

Sang Sumber Panguripan adalah sumber dari panguripan itu sendiri.

Oleh karena itu, memahami urip sejati bukan berarti mencari sumber kehidupan sebagai sesuatu yang harus ditemukan di suatu tempat. Manusia justru perlu memahami kehidupan yang sedang dijalaninya serta menyadari adanya tatanan dan wewatesan dalam panguripan.

Kesadaran tersebut membawa manusia pada sikap yang lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan.

Panguripan tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang bebas diperlakukan menurut kehendak pribadi, tetapi sebagai kehidupan yang perlu dijalani dengan kesadaran terhadap akibat setiap pikiran, rasa, kehendak, dan tindakan.

Hubungan Kawruh Urip Sejati dengan Kawruh Sejati.
Kawruh Urip Sejati mempunyai hubungan erat dengan Kawruh Sejati, tetapi keduanya tidak sama.

Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh, bukan sekadar pengetahuan yang dibentuk oleh pikiran manusia. Pepadhang tersebut menjadi dasar bagi manusia untuk mengenali dan memahami kasunyatan secara lebih jernih.

Sementara itu, Kawruh Urip Sejati berhubungan dengan bagaimana manusia menjalani kehidupan berdasarkan pepadhang tersebut.

Hubungan keduanya dapat dipahami melalui rangkaian:
Kawruh Sejati → pepadhang → pemahaman → kesadaran → laku kehidupan.

Dengan demikian, pemahaman mengenai kebenaran tidak cukup berhenti sebagai pengertian. Kawruh perlu mempunyai dampak positif dalam kehidupan.

Cara berpikir, cara merasakan, cara memilih, serta cara bertindak menjadi ruang untuk melihat bagaimana kawruh benar-benar dihayati.

Di sinilah Kawruh Urip Sejati mempunyai kedudukan sebagai kawruh yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan laku manusia.

Purnata Jiwana sebagai Wedharan Urip Sejati.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan mengenai tatanan menuju keutuhan kehidupan manusia.

Purnata dapat dipahami sebagai keadaan yang utuh, sedangkan jiwana berkaitan dengan kehidupan. Purnata Jiwana dengan demikian menunjuk pada kehidupan yang semakin tertata melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

Purnata Jiwana disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Kesempurnaan yang dimaksud dalam Purnata Jiwana bukan keadaan tanpa kesalahan dan bukan pula pencapaian lahiriah. Manusia tetap dapat menghadapi kegagalan, kesulitan, perpisahan, perubahan, serta berbagai keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Yang menjadi pokok adalah kemampuan manusia menata dirinya ketika menghadapi keadaan tersebut.

Karena itu, Purnata Jiwana merupakan lampah, bukan sekadar keadaan yang diklaim telah tercapai.

Tiga Dasar Purnata Jiwana.
Purnata Jiwana bertumpu pada tiga dasar utama, yaitu Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.

1. Cipta Wening.
Cipta Wening merupakan kejernihan dalam memahami dan memandang kehidupan. Cipta yang belum wening mudah dipengaruhi prasangka, ketakutan, kemarahan, kesombongan, kepentingan pribadi, atau keinginan sesaat. Keadaan tersebut dapat menyebabkan manusia melihat sesuatu secara tidak utuh.

Cipta Wening bukan berarti manusia tidak boleh memiliki pendapat. Justru kejernihan membantu manusia membentuk pendapat secara lebih cermat dan tidak tergesa-gesa.

Ketika menerima suatu informasi, manusia perlu memeriksa sebelum mempercayainya.

Ketika melihat kesalahan orang lain, manusia perlu mempertimbangkan keadaan secara utuh.

Ketika memperoleh pujian maupun celaan, manusia perlu tetap mampu mawas terhadap dirinya sendiri.

Salah satu tanda cipta yang semakin wening adalah kesediaan mengakui kemungkinan bahwa pemahamannya masih dapat keliru.

"Weninging Cipta dadi Pepadhanging Pangerten."

2. Tulusing Rasa.
Tulusing Rasa merupakan keadaan rasa yang semakin bersih dari pamrih yang merusak hubungan manusia dengan sesama dan kehidupan.

Rasa merupakan bagian penting dalam pengalaman manusia. Kasih, welas, prihatin, bahagia, kecewa, dan berbagai pangraos merupakan bagian dari kehidupan. Namun rasa juga dapat menjadi keruh ketika dikuasai iri, kebencian, kepentingan pribadi, atau keterikatan.

Ketulusan bukan berarti selalu menyetujui segala sesuatu. Ketulusan dapat berjalan bersama ketegasan. Manusia dapat menyampaikan sesuatu yang benar tanpa didorong kebencian atau keinginan merendahkan.

Tulusing Rasa juga membuka ruang untuk menghormati perbedaan. Perbedaan pamawas, watak, maupun jalan kehidupan tidak harus menjadi alasan untuk saling merendahkan.

"Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan."

3. Karsa Utama.
Karsa Utama merupakan kehendak yang diarahkan kepada kebaikan, keselarasan, dan beciking panguripan.

Karsa bukan hanya keinginan. Karsa mempunyai hubungan langsung dengan tindakan karena kehendak menentukan apa yang hendak diwujudkan manusia.

Karsa yang tidak tertata dapat membawa manusia mengikuti kepentingan sesaat.

Sebaliknya, karsa utama mendorong manusia memilih tindakan yang baik meskipun tindakan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan pribadi.

Kejujuran ketika kebohongan memberikan keuntungan, kesediaan mengakui kesalahan, membantu tanpa menuntut balasan, serta menahan diri dari tindakan yang merugikan merupakan contoh bagaimana kehendak dapat diarahkan kepada kautaman.

"Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku."

Keselarasan sebagai Inti Purnata Jiwana.
Ketiga dasar tersebut di atas tidak berdiri sendiri. Cipta membantu manusia memahami. Rasa membantu manusia menghayati. Karsa membantu manusia mewujudkan apa yang telah dipahami dan dihayati ke dalam tindakan.

Cipta tanpa rasa dapat menjadi kaku. Rasa tanpa cipta dapat kehilangan arah. Karsa tanpa keduanya dapat menghasilkan tindakan yang tidak tertata.

Karena itu, Purnata Jiwana terletak pada keselarasan ketiganya. Cipta Wening memberikan kejernihan pangerten. Tulusing Rasa membangun kaselarasan. Karsa Utama mewujudkan pemahaman dalam laku.

Dengan demikian, mengetahui saja belum cukup. Menghayati saja juga belum selesai. Keduanya perlu diwujudkan dalam tindakan yang nyata.

Kesadaran dan Mawas Diri.
Kesadaran menjadi bagian penting dalam perjalanan urip sejati karena manusia perlu mampu melihat keadaan dirinya sendiri.

Kesadaran memungkinkan manusia mengenali apa yang sedang terjadi dalam cipta, rasa, dan karsa sebelum semuanya diwujudkan dalam tindakan. Dari sinilah tumbuh mawas dhiri, yaitu kemampuan untuk melihat diri sendiri secara lebih jernih.

Kesadaran perlu dibedakan dari Kawruh Sejati. Kesadaran merupakan kemampuan manusia untuk menyadari, sedangkan Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh. Keduanya berhubungan, tetapi tidak identik.

Melalui kesadaran, manusia dapat mengenali apa yang mengeruhkan dirinya dan kemudian melakukan pembenahan melalui laku.

Urip Sejati sebagai Laku.
Hakikat Kawruh Urip Sejati pada akhirnya kembali kepada laku.

Laku berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam keadaan khusus. Keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, keberhasilan, kegagalan, pujian, kritik, kesulitan, maupun perubahan kehidupan dapat menjadi ruang untuk menguji cipta, rasa, dan karsa.

Karena itu, manusia tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk memulai lampah.

Ketika cipta mulai keruh, kembali kepada wening. Ketika rasa mulai dikuasai pamrih, kembali kepada ketulusan. Ketika karsa mulai menyimpang, kembali kepada kautaman.

Kesalahan dapat menjadi pepeling. Kesulitan dapat menjadi panggulawenthah. Perjumpaan dapat menjadi piwulang.

Dengan demikian, kehidupan yang sedang dijalani sudah menjadi ruang untuk mengupayakan keutuhan diri.

Makna Kesempurnaan Hidup.
Purnata Jiwana tidak mengukur kesempurnaan hidup berdasarkan banyaknya harta, tingginya kedudukan, luasnya pengetahuan, banyaknya pengalaman, ataupun panjangnya usia.

Kesempurnaan lebih berkaitan dengan bagaimana manusia menata dirinya dalam menjalani panguripan.

Semakin wening cipta, semakin jernih pangerten. Semakin tulus rasa, semakin selaras hubungan dengan kehidupan. Semakin utama karsa, semakin bertanggung jawab tindakan yang dilakukan.

Purnata Jiwana karena itu bukan tuntutan untuk menjadi manusia tanpa kesalahan. Ia merupakan kesediaan untuk terus membenahi diri.

Penutup.
Kawruh Urip Sejati Uttamopadesa, yang dalam kerangka ini disebut Purnata Jiwana Uttamopadesa, merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo sebagai bagian dari Kawruh Uttamopadesa.

Hakikatnya adalah memahami dan menjalani panguripan dengan kesadaran terhadap kasunyatan, kemudian mewujudkan pemahaman tersebut melalui laku yang tertata.

Kawruh Sejati menjadi pepadhang, kesadaran menjadi kemampuan untuk menyadari dan mawas terhadap diri, sedangkan laku menjadi perwujudan pemahaman dalam kehidupan.

Inti Purnata Jiwana bertumpu pada tiga dasar: Cipta Wening, Tulusing Rasa dan Karsa Utama.

Ketiganya diarahkan menuju keselarasan sehingga manusia tidak hanya mengetahui, tetapi juga mampu menghayati dan mewujudkan pemahamannya dalam kehidupan.

Maka lampah Purnata Jiwana dapat diringkas menjadi:
Ngupadi Weninging Cipta, Ngupadi Tulusing Rasa, Ngupadi Utamaning Karsa, Ngupadi Beciking Laku. Pangerten kudu dadi laku. Laku kudu dadi watak. Watak kudu katon ing kaananing urip.

Di situlah makna Urip Sejati Uttamopadesa menemukan wujudnya, yaitu kehidupan yang terus diupayakan menjadi semakin wening dalam cipta, tulus dalam rasa, utama dalam karsa, dan utuh dalam laku kehidupan.

FAQ – Kawruh Urip Sejati Uttamopadesa.

1. Apa yang dimaksud Kawruh Urip Sejati Uttamopadesa?
Kawruh Urip Sejati Uttamopadesa adalah kawruh tentang cara memahami dan menjalani panguripan berdasarkan pemahaman terhadap kasunyatan.

2. Apa hubungan Kawruh Urip Sejati dengan Purnata Jiwana?
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan dalam kerangka Kawruh Urip Sejati yang membahas tatanan menuju keutuhan kehidupan melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

3. Siapa yang menyusun Purnata Jiwana Uttamopadesa?
Purnata Jiwana Uttamopadesa disusun oleh Dhimas Purnomo sebagai bagian dari pengembangan Kawruh Uttamopadesa.

4. Apa tiga dasar utama Purnata Jiwana?
Tiga dasarnya adalah Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama, yang menjadi dasar untuk membangun keselarasan dalam kehidupan.

5. Apa hubungan Kawruh Urip Sejati dengan Kawruh Sejati?
Keduanya berkaitan tetapi tidak sama. Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh, sedangkan Kawruh Urip Sejati berkaitan dengan menjalani kehidupan berdasarkan pepadhang tersebut.

6. Apakah Urip Sejati berarti kehidupan tanpa masalah?
Tidak. Urip Sejati bukan kehidupan tanpa persoalan, melainkan kemampuan menjalani berbagai keadaan dengan cipta yang wening, rasa yang tulus, dan karsa yang utama.

7. Bagaimana Purnata Jiwana diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Purnata Jiwana diwujudkan melalui laku nyata: terus menata cipta, rasa, dan karsa dalam keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, serta ketika menghadapi keberhasilan maupun kesulitan.

Komentar